Negeri di Balik Pintu Lemari

Sepeninggal ibunya dua tahun lalu, Rangga, 35 tahun, mewarisi sebuah rumah tua di pinggir kota. Rumah itu penuh dengan lemari-lemari jati tua peninggalan neneknya. Yang paling besar berdiri di kamar utama, tingginya mencapai langit-langit, dengan ukiran-ukiran rumit yang mulai lapuk. Sebagai seorang arsitek, Rangga justru jatuh cinta pada detail usang itu. Ia memutuskan tinggal di sana, merenovasi perlahan, dan menjadikan lemari tua itu sebagai proyek pertamanya.

Tiap akhir pekan, Rangga membuka pintu lemari itu. Bukan untuk membersihkan, melainkan untuk mendengarkan. Sebab, lemari itu berbisik.

Awalnya ia mengira itu hanya derit kayu tua. Namun suatu malam, saat hujan deras mengguyur genteng, ia mendengar suara yang lebih jelas. Suara orang mengaji. Bukan dari masjid tetangga, melainkan dari dalam lemari. Saat ia mendekatkan telinga ke ukiran-ukiran itu, ia mendengar bukan satu suara, melainkan puluhan. Anak-anak. Orang dewasa. Campur aduk seperti rekaman kuno yang diputar dari balik dinding.

“Ada apa di balik pintu itu?” gumam Rangga.

Minggu berikutnya, ia memutuskan untuk membuka lemari itu dengan cara yang tidak biasa. Ia tidak mencari baju atau selimut. Ia menyentuh setiap sudut dalam lemari dengan jari, meraba ukiran-ukiran yang ternyata membentuk peta. Ya, peta. Semakin lama jarinya meraba, semakin ia sadar bahwa ukiran itu bukan sekadar hiasan. Itu adalah garis-garis sungai, gunung, dan perkampungan. Di tengah-tengah peta itu, tertulis aksara Jawa kuno yang setelah ia terjemahkan berbunyi: Negerine Wong Lali — Negeri Orang-Orang yang Lupa.

Rangga mulai bertanya-tanya. Lupa akan apa? Lalu ia teringat cerita ibunya dulu. Neneknya adalah seorang dukun beranak dan tabu. Bukan peramal, tapi orang yang dipercaya menyimpan ingatan-ingatan kampung. Setiap ada warga yang meninggal, sebelum dimakamkan, keluarganya datang ke rumah ini membawa sesuatu: sehelai rambut, secarik catatan, atau kain yang pernah dikenakan. Neneknya akan menyimpannya di dalam lemari itu. Bukan untuk dikenang, katanya, tapi untuk dikembalikan.

“Kembalikan ke mana?” tanya Rangga dulu.
“Ke negeri tempat mereka lupa bahwa mereka sudah mati,” jawab ibunya sambil tersenyum misterius.

Rangga tak pernah percaya. Tapi malam itu, ia memutuskan untuk memasukkan tangannya lebih dalam ke lemari. Bukan ke rak-rak kayu, melainkan ke kegelapan yang tak berdasar di balik gantungan baju. Ujung jarinya menyentuh sesuatu yang hangat. Seperti kulit manusia. Ia menarik napas, lalu meraih lebih jauh.

Lalu, seperti kain yang ditarik dari sebuah mimpi, ia merasa tubuhnya terhisap.

Rangga terbangun di sebuah desa yang terang benderang, padahal di luar malam. Langitnya biru muda, mataharinya bulat sempurna, tapi tidak panas. Ada suara gamelan dari kejauhan. Anak-anak berlarian di sawah yang airnya diam, tidak bergerak. Orang-orang duduk di serambi rumah, tersenyum padanya seperti sudah mengenalnya lama.

Seorang perempuan tua menghampiri. Wajahnya mirip neneknya.

“Akhirnya kamu datang,” katanya. “Kami sudah lama menyimpan barang-barangmu.”

“Barang apa?” tanya Rangga bingung.

“Kenangan,” jawabnya. “Setiap orang yang kau temui di dunia luar, setiap nama yang kau lupa, setiap peristiwa yang kau kubur dalam-dalam, kami simpan di sini. Lemari itu adalah pintunya. Dan kau, cucuku, adalah penjaga terakhir.”

Rangga berjalan di sepanjang jalan desa. Di setiap rumah, ia melihat benda-benda yang ia kenali. Mainan mobil yang hilang saat ia kecil. Surat cinta pertama yang ia robek karena malu. Foto ibunya saat masih muda, yang ia yakini sudah terbakar. Semuanya ada. Disusun rapi. Dijaga oleh orang-orang yang ia pikir sudah tiada.

Lalu ia sadar: negeri ini bukan tempat orang mati. Ini tempat ingatan-ingatan yang ditinggal mati oleh pemiliknya.

Seorang lelaki paruh baya menghampiri. Ia mengenakan kemeja lusuh dan menenteng sebuah buku besar. “Aku penjaga arsip,” katanya. “Kami tidak bisa mengembalikan barang-barang ini sendiri. Hanya pemiliknya yang boleh mengambil. Tapi selama dua puluh tahun, tidak ada yang datang.”

Rangga terdiam. Ia teringat semua mantan, semua sahabat yang putus hubungan, semua mimpi yang ia kubur karena katanya ‘tidak realistis’. Semua itu hidup di sini. Bukan sebagai hantu, tapi sebagai versi dirinya yang dulu.

“Bolehkah aku mengambil semuanya?” tanya Rangga.

Lelaki itu menggeleng. “Hanya satu. Setiap kali kau datang, kau bisa mengambil satu ingatan yang kau lupakan. Tapi hati-hati. Mengingat kembali sesuatu yang sudah lama kau kubur, kadang sama sakitnya dengan saat pertama kau kehilangan.”

Rangga memilih. Ia mengambil sebuah kotak kecil berisi suara ibunya yang tertawa. Saat ia membuka kotak itu, tawa ibunya mengalir seperti air, hangat dan nyata. Air matanya jatuh. Ia merasakan dadanya sesak, lalu lega.

Ketika ia sadar kembali, ia sudah terduduk di depan lemari, pintu kayu jati itu masih terbuka. Di pangkuannya, ada sebuah rekaman kaset tua. Ia tidak punya pemutar kaset. Tapi saat ia mendekatkannya ke telinga, ia mendengar suara ibunya, sama persis seperti yang ia dengar di negeri itu.

Sejak malam itu, Rangga tidak lagi merenovasi lemari. Ia hanya membukanya setiap minggu, duduk di depan pintu, dan mendengarkan. Ia tahu, suatu hari nanti ia akan masuk lagi. Bukan untuk melarikan diri, tapi untuk mengambil satu per satu ingatan yang ia kubur, dan membawanya pulang.

Karena negeri di balik pintu lemari itu bukanlah dunia lain. Ia adalah dunia yang selalu ada di dalam dirinya, tersimpan rapi, menunggu untuk dikenang kembali.

Tamat.

Relai Stasiun Bulan

Matahari belum sepenuhnya terbenam ketika Nadia sudah berdiri di peron Stasiun Relai Bulan. Stasiun itu kecil hanya sebuah papan nama bercat putih, satu bangku kayu jati yang usang, dan lampu neon tua yang menyala oranye kemerahan seperti denyut jantung yang melambat.

Namun pemandangan di depannya… itulah yang membuat orang rela berjalan kaki tiga jam menembus hutan pinus dan ladang teh. Di seberang rel yang tampak tak terawat itu, Gunung Semeru menjulang sempurna, ditaburi awan stratosfer yang tipis seperti kain kasa. Dan tepat di puncaknya, bulan purnama baru saja menampakkan diri bulat, dingin, dan terlalu dekat untuk ukuran langit malam biasa.

“Kau datang lagi,” s seorang lelaki tua muncul dari balik gardu yang hampir roboh. Dia memakai rompi lusuh bertuliskan “PT KAI Daop 9 Stasiun Relai Bulan” dengan huruf yang sudah terkelupas. Namanya Mbah Parmin. Petugas stasiun terakhir yang tersisa.

“Sudah lima tahun aku tidak ke sini, Mbah,” jawab Nadia, masih tak mengalihkan pandang dari bulan.

“Dan dua puluh tahun sejak pertama kali kau ke sini. Waktu kau masih setinggi bangku itu.” Mbah Parmin tersenyum tanpa gigi. “Bulan masih sama, Nak. Tapi relnya… relnya sudah berubah.”

Nadia akhirnya menoleh. Tepat di bawah sinar bulan, dia bisa melihat rel kereta yang mengilap tidak berkarat, tidak berlumut, bahkan seolah baru saja dilalui kereta. Padahal, jalur ini sudah tidak aktif sejak 1998.

“Masih ada yang lewat?” tanya Nadia, suaranya setengah berbisik.

Mbah Parmin menghela napas panjang, lalu duduk di bangku kayu itu sambil menepuk sisi kirinya isyarat agar Nadia ikut duduk.

“Hanya satu kereta. Namanya Kereta Senja Penghapus Rindu. Lewat tiap bulan purnama, tepat pukul sembilan malam. Tidak berhenti, hanya melambat. Cukup lambat agar kau bisa melompat naik… jika berani.”

Nadia duduk di sampingnya. Bulu kuduknya merinding, bukan karena dingin. “Kereta itu mau ke mana?”

“Ke stasiun-stasiun yang sudah ditutup. Stasiun Kenangan, Stasiun Maaf yang Terlambat, Stasiun Andai Saja, dan yang terakhir…” Mbah Parmin menghela napas. “Stasiun Pelukan Terakhir.”

Suasana hening. Angin malam membawa wangi bunga kopi yang mekar di lereng bukit.

“Dua puluh tahun lalu, Mbah, aku ke sini bersama Mama,” Nadia memulai cerita, suaranya pecah. “Mama bilang, kalau kita naik kereta itu, kita akan sampai ke rumah Nenek di kampung. Tapi aku menangis. Aku takut gelap. Aku bilang Mama bodoh karena percaya kereta hantu.”

Mbah Parmin mendengarkan dalam diam.

“Lalu Mama tertawa, mencium keningku, dan berkata, ‘Tidak apa-apa, Nak. Nanti kalau sudah besar, kita naik bersama.’ Tapi minggu depannya, Mama meninggal. Kecelakaan bus di tikungan Tanjakan Sembalun.”

Nadia menarik napas dalam-dalam. Air matanya sudah jatuh sebelum dia sempat menahannya.

“Setiap bulan purnama selama lima tahun pertama, aku ke sini. Menunggu kereta itu. Berharap bisa naik dan turun di Stasiun Pelukan Terakhir, memeluk Mama sekali lagi.” Nadia menatap tangannya sendiri. “Tapi aku selalu mundur. Terlalu takut, terlalu ragu, terlalu… manusia.”

Mbah Parmin berdiri. Lampu oranye di atas mereka berkedip, dan tiba-tiba suara peluit kereta terdengar dari kejauhan bukan suara biasa, tapi seperti nyanyian, seperti desahan, seperti kaset kumal yang diputar ulang.

“Keretanya datang,” kata Mbah Parmin datar.

Dari ujung timur rel, tampak kereta kuno dengan badan warna hijau tua dan lampu tembok remang-remang. Tidak ada masinis yang terlihat di ruang depannya. Tidak ada suara roda besi yang menggesek rel. Yang ada hanyalah suara angin yang berubah nada, seolah membisikkan nama-nama orang yang sudah tiada.

Kereta itu melambat tepat di depan Stasiun Relai Bulan.

Pintu di gerbong ketiga terbuka dengan sendirinya. Dari dalam, keluar cahaya hangat seperti lilin, dan sesosok bayangan samar bukan manusia utuh, tapi lebih seperti ingatan yang berbentuk mengulurkan tangan.

Nadia tersentak. Sosok itu… rambutnya sebahu, bajunya kebaya lusuh kesayangan Mama, dan wangi melati yang sama.

“Naiklah, Nak,” kata Mbah Parmin pelan. “Ini giliran terakhirmu. Stasiun Relai Bulan akan tutup permanen setelah tengah malam. Relnya akan dicabut. Jalannya akan ditutup. Bulan purnama pun akan tetap bulan purnama biasa.”

Nadia berdiri. Kakinya gemetar. Hatinya berdebar seperti mau copot.

“Apa yang akan terjadi kalau aku naik?” tanyanya.

“Kau akan turun di Stasiun Pelukan Terakhir. Kau akan memeluk Mama. Kau akan mengucap selamat tinggal. Dan kau akan kembali ke sini saat subuh tanpa memori tentang apa pun yang terjadi di perjalanan. Hanya perasaan hangat di dada yang tak bisa kau jelaskan.”

“Dan kalau aku tidak naik?”

Mbah Parmin menatapnya dengan mata yang basah. “Maka kau akan menghabiskan sisa hidupmu menunggu sesuatu yang tak pernah datang lagi. Seperti stasiun ini. Seperti aku.”

Kereta mulai melaju perlahan. Pintu gerbong masih terbuka. Bayangan Mama masih mengulurkan tangan.

Nadia mengambil satu langkah ke depan. Lalu berhenti.

Dia menatap bulan yang sekarang tepat di atas kepala begitu dekat, begitu penuh, begitu bulat sempurna.

“Terima kasih, Mbah,” bisik Nadia. Lalu dia berbalik, dan duduk kembali di bangku kayu itu. Menangis. Tersenyum. Melepaskan.

Kereta melaju meninggalkan stasiun. Pintunya tertutup perlahan. Bayangan Mama tersenyum sebelum lenyap.

Mbah Parmin menghela napas. Tapi kali ini, napasnya lega.

“Kenapa tidak naik?” tanya Mbah Parmin.

Nadia menyeka air matanya. “Karena aku sadar… pelukan terakhir Mama sudah kuterima dua puluh tahun lalu. Saat dia memelukku di stasiun ini, sebelum dia berangkat ke Tanjakan Sembalun. Aku tidak perlu mengejarnya ke kereta hantu. Aku hanya perlu berhenti lari dari kenyataan.”

Malam itu, untuk pertama kalinya dalam dua puluh tahun, Nadia tidur nyenyak di bangku kayu Stasiun Relai Bulan. Ditemani Mbah Parmin yang mendengkur pelan, ditemani bulan yang tetap bersinar terang, dan ditemani rel-rel yang mulai berkarat karena kereta terakhir telah lewat untuk selama-lamanya.

Subuh harinya, Nadia pulang. Stasiun itu benar-benar hilang dari peta. Tapi di sudut hatinya, sebuah papan nama kecil tetap berdiri:

Stasiun Relai Bulan
tempat berhenti terakhir sebelum kamu memaafkan dirimu sendiri.

TAMAT